Ada yang berkata: "Jadi diri sendiri lebih baik daripada jadi orang lain." Menurut saya perkataan ini betul namun perlu ada penjelasan, karena bisa disalah artikan. Salah satu contoh, ornag yang pendiam dan pemalu, jika diajak untuk lebih ramah bisa saja berpikir: "Saya kan memang begini orangnya, mau jadi ramah ya gak bisa." Ini yang perlu dijelaskan. Mengembangkan diri bukan berarti jadi orang lain, namun meningkatkan kapasitas dan potensi diri. Atau bahasa rohaninya: mengembangkan talenta yang Tuhan sudah beri. Kita masih bisa mengembangkan diri dengan tetap menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri artinya mempunyai ciri khas sendiri, atau ada orisinalitas. Dalam contoh tadi, menjadi lebih ramah bukan berarti menjadi orang lain, tetapi membuat diri lebih mudah bergaul dan lebih menyenangkan.
Langkah pertama untuk mengambangkan diri adalah menyediakan diri kita untuk belajar. Kita dapat belajar dari banyak hal, seperti orang lain, pengalaman, buku, dan lain-lain. Maka jika kita mau mengembangkan diri, mari kita sediakan diri kita untuk belajar. Buka pikiran dan wawasan kita. Ketika diri kita berkembang, maka akan banyak manfaat yang dapat kita dapatkan. Apa saja? Alami sendiri saja yuk! Ssstt.... Sebagai bocoran, kita akan mengalami bahwa kita menjadi pribadi yang lebih baik, mempunyai lebih banyak teman, lebih disukai orang, dan masih banyak lagi! Mari berkembang bersama saya! Ikuti blog saya terus, dan jika anda punya blog, cantumkan linknya di komentar, saya akan follow. Kita akan saling berbagi.
Oh ya, mengembangkan diri juga tidak berarti fokus pada kekurangan kita, justru sebaliknya, kita fokus pada kelebihan kita tanpa mengabaikan kelemahan kita. Dalam waktu-waktu ke depan saya akan post tulisan-tulisan mengenai pengembangan diri.
Monday, February 25, 2013
Thursday, February 21, 2013
Yang Penting Yesus!
Setiap kali ada diskusi tentang Nama Tuhan kita, sering kali sampai pada titik
tertentu (titik jenuh kali ya, hehehe...) orang yang bingung sehingga menjadi
'non-blok' akan mengatakan intinya kira-kira seperti ini: "Yang penting
Yesus!" Sekilas jawaban mereka itu memang baik dan bijaksana. Namun perlu
kita tanya lebih dalam lagi supaya jelas. Kita perlu menanyakan: "Yesus
yang siapa? Yesus yang Allah atau Yesus yang Yahweh?" supaya kita yakin
bahwa orang tersebut tidak memberitakan Yesus Yang Lain.
Satu hal yang perlu dicermati adalah jika mereka mengatakan: "Yang Penting Yesus!" berarti secara tidak langsung mereka memandang tidak penting Bapa Yahweh, dan juga Roh Kudus. Padahal ketiganya adalah Esa! Bagaimana mungkin mereka mementingkan yang satu dan memisahkan ketiganya? Alkitab berkali-kali menunjukkan supaya ketiganya tidak dipisahkan dan tidak ada yang lebih dipentingkan salah satunya (Kejadian 1:26 dan Ulangan 6:4). Dalam Perjanjian Baru kita membaca bahwa segera sesudah Tuhan Yesus dibaptis pun, ketiganya tampil bersama. Bahkan dalam format 'materai' baptisan pun Tuhan Yesus menyebutkan ketiga Pribadi Tuhan kita, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Matius 28:19).
Firman Tuhan dalam Yohanes 10:30 berkata bahwa Yesus dan Bapa adalah satu; bahkan dalam Yohanes 8:24-27 Yesus mengaku bahwa Dialah Bapa sendiri yang dalam rupa manusia. Oleh karena itu sangatlah perlu untuk mengetahui Yesus yang siapa yang mereka maksud.
Bapa Yahweh di dalam nama Tuhan Yeshua memberkati kita semua! Amin!
Satu hal yang perlu dicermati adalah jika mereka mengatakan: "Yang Penting Yesus!" berarti secara tidak langsung mereka memandang tidak penting Bapa Yahweh, dan juga Roh Kudus. Padahal ketiganya adalah Esa! Bagaimana mungkin mereka mementingkan yang satu dan memisahkan ketiganya? Alkitab berkali-kali menunjukkan supaya ketiganya tidak dipisahkan dan tidak ada yang lebih dipentingkan salah satunya (Kejadian 1:26 dan Ulangan 6:4). Dalam Perjanjian Baru kita membaca bahwa segera sesudah Tuhan Yesus dibaptis pun, ketiganya tampil bersama. Bahkan dalam format 'materai' baptisan pun Tuhan Yesus menyebutkan ketiga Pribadi Tuhan kita, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Matius 28:19).
Firman Tuhan dalam Yohanes 10:30 berkata bahwa Yesus dan Bapa adalah satu; bahkan dalam Yohanes 8:24-27 Yesus mengaku bahwa Dialah Bapa sendiri yang dalam rupa manusia. Oleh karena itu sangatlah perlu untuk mengetahui Yesus yang siapa yang mereka maksud.
Bapa Yahweh di dalam nama Tuhan Yeshua memberkati kita semua! Amin!
Yesus yang Lain
"Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang
lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberitakan kepada kamu roh
yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang
telah kamu terima" (2 Korintus 11:4).
Memangnya ada Yesus yang lain? Ada! Terutama di dalam kekristenan di Indonesia sekarang ini. Baik Yesus yang asli maupun yang tidak asli, semuanya bilang bahwa Yesus adalah penuh kasih, jalan, kebenaran, dan kehidupan, dan lain-lain. Ibaratnya kalo iklan kecap, pasti semuanya bilang nomor satu atau nomor wahid, hihihi... Tapi kita perlu jeli untuk mempercayai Yesus yang mana yang Yesus asli, yang diberitakan oleh rasul Paulus. Paulus sudah memberitahu kita supaya waspada jika ada yang memberitakan Yesus yang lain dari yang dia beritakan. Mari kita selidiki ciri-ciri Yesus yang diberitakan oleh rasul Paulus.
Yesus yang diberitakan oleh Paulus tentunya Yesus yang tertulis dalam kitab Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Oleh karena itu baiklah kita melihat apa yang tertulis dalam keempat kitab Injil. Kita tahu bahwa ciri-ciri Yesus yang sudah saya sebutkan di atas semua ada dalam keempat kitab Injil. Lalu bagaimana caranya kita mengetahui mana Yesus yang asli dan Yesus yang lain? Sebaik-baik tupai melompat, pasti jatuh juga. Sebaik-baik orang meniru, pasti ketahuan juga perbedaannya. Puji Tuhan ada satu ciri yang tidak bisa ditiru oleh Yesus yang lain. Yesus berkata bahwa DiriNya dan Bapa adalah Satu (Yohanes 10:30) dan Dia mengaku bahwa DiriNya adalah Bapa sendiri yang menjadi manusia (Yohanes 8:24-27). Meskipun Yesus yang lain mengakui hal ini, namun jika kita gali lebih dalam, ternyata Bapa yang dimaksud oleh Yesus yang asli itu tidak sama dengan Bapa yang dimaksud oleh Yesus yang lain. Bapa yang dimaksud oleh Yesus yang asli adalah Yahweh (Yesaya 64:8--lihat 'TUHAN' dalam kamus Alkitab, ternyata adalah Yahweh). Sedangkan Bapa yang dimaksud oleh Yesus yang lain adalah Allah (tidak ada referensi ayat karena memang di Alkitab tidak ada ayat yang menyatakan bahwa Bapa Surgawi adalah Allah).
Jadi, Yesus yang rasul Paulus beritakan adalah Yesus yang Yahweh, sedangkan Yesus yang lain adalah Yesus yang Allah. Kita tahu bahwa Yahweh dan Allah adalah nama dua pribadi yang berbeda. Yahweh adalah Nama Tuhan Israel (yang tentunya Tuhan kita juga yang disembah oleh para nabi yang ada di Alkitab), sedangkan Allah adalah nama Tuhannya saudara kita orang Muslim. Menurut Wahyu 14:1 (terjemahan LAI), orang-orang yang ada di surganya Tuhan Israel adalah yang di dahinya (di pikirannya) ada 2 Nama, yaitu NamaNya dan Nama BapaNya. Siapa NamaNya? Yesus (Yeshua). Siapa Nama BapaNya? Yahweh. Berarti semua orang yang ada di surga di dahi mereka harus tertulis Yesus (Yeshua) dan Yahweh, bukan Yesus (Yeshua) dan Allah. Orang Muslim sendiri tidak setuju lho kalau Allah dipakai dalam kekristenan, salah satu buktinya yaitu kasus pembakaran gereja di Malaysia, saudara bisa cari di Internet atau cari di link saya.
Jadi, waspadalah! Waspadalah! Jangan sampai terkecoh dengan Yesus yang lain! Percayalah pada Yesus yang Yahweh. Karena Firman gak pernah bohong.
Bapa Yahweh memberkati kita semua! =)
Memangnya ada Yesus yang lain? Ada! Terutama di dalam kekristenan di Indonesia sekarang ini. Baik Yesus yang asli maupun yang tidak asli, semuanya bilang bahwa Yesus adalah penuh kasih, jalan, kebenaran, dan kehidupan, dan lain-lain. Ibaratnya kalo iklan kecap, pasti semuanya bilang nomor satu atau nomor wahid, hihihi... Tapi kita perlu jeli untuk mempercayai Yesus yang mana yang Yesus asli, yang diberitakan oleh rasul Paulus. Paulus sudah memberitahu kita supaya waspada jika ada yang memberitakan Yesus yang lain dari yang dia beritakan. Mari kita selidiki ciri-ciri Yesus yang diberitakan oleh rasul Paulus.
Yesus yang diberitakan oleh Paulus tentunya Yesus yang tertulis dalam kitab Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Oleh karena itu baiklah kita melihat apa yang tertulis dalam keempat kitab Injil. Kita tahu bahwa ciri-ciri Yesus yang sudah saya sebutkan di atas semua ada dalam keempat kitab Injil. Lalu bagaimana caranya kita mengetahui mana Yesus yang asli dan Yesus yang lain? Sebaik-baik tupai melompat, pasti jatuh juga. Sebaik-baik orang meniru, pasti ketahuan juga perbedaannya. Puji Tuhan ada satu ciri yang tidak bisa ditiru oleh Yesus yang lain. Yesus berkata bahwa DiriNya dan Bapa adalah Satu (Yohanes 10:30) dan Dia mengaku bahwa DiriNya adalah Bapa sendiri yang menjadi manusia (Yohanes 8:24-27). Meskipun Yesus yang lain mengakui hal ini, namun jika kita gali lebih dalam, ternyata Bapa yang dimaksud oleh Yesus yang asli itu tidak sama dengan Bapa yang dimaksud oleh Yesus yang lain. Bapa yang dimaksud oleh Yesus yang asli adalah Yahweh (Yesaya 64:8--lihat 'TUHAN' dalam kamus Alkitab, ternyata adalah Yahweh). Sedangkan Bapa yang dimaksud oleh Yesus yang lain adalah Allah (tidak ada referensi ayat karena memang di Alkitab tidak ada ayat yang menyatakan bahwa Bapa Surgawi adalah Allah).
Jadi, Yesus yang rasul Paulus beritakan adalah Yesus yang Yahweh, sedangkan Yesus yang lain adalah Yesus yang Allah. Kita tahu bahwa Yahweh dan Allah adalah nama dua pribadi yang berbeda. Yahweh adalah Nama Tuhan Israel (yang tentunya Tuhan kita juga yang disembah oleh para nabi yang ada di Alkitab), sedangkan Allah adalah nama Tuhannya saudara kita orang Muslim. Menurut Wahyu 14:1 (terjemahan LAI), orang-orang yang ada di surganya Tuhan Israel adalah yang di dahinya (di pikirannya) ada 2 Nama, yaitu NamaNya dan Nama BapaNya. Siapa NamaNya? Yesus (Yeshua). Siapa Nama BapaNya? Yahweh. Berarti semua orang yang ada di surga di dahi mereka harus tertulis Yesus (Yeshua) dan Yahweh, bukan Yesus (Yeshua) dan Allah. Orang Muslim sendiri tidak setuju lho kalau Allah dipakai dalam kekristenan, salah satu buktinya yaitu kasus pembakaran gereja di Malaysia, saudara bisa cari di Internet atau cari di link saya.
Jadi, waspadalah! Waspadalah! Jangan sampai terkecoh dengan Yesus yang lain! Percayalah pada Yesus yang Yahweh. Karena Firman gak pernah bohong.
Bapa Yahweh memberkati kita semua! =)
Panggilan Sayang
Bagi yang sudah mempunyai pasangan atau pernah mempunyai pasangan, pasti tidak asing dengan judul di atas, hehehe . . . ^^ Ketika seseorang mencintai pasangannya, mereka ingin memanggil pasangannya dengan sebutan yang spesial dan istimewa. Tentunya sebutan ini juga atas persetujuan kedua belah pihak. Jika salah satu tidak setuju menggunakan panggilan sayang tertentu, pasti dia akan mengganti dengan sebutan yang lain, yang disukai oleh kedua belah pihak. Contoh, wahai para pria (jika saudara adalah wanita, maka bayangkan saudari menjadi pria), bagaimana jika pasangan saudara menggunakan nama pria lain sebagai panggilan sayang yang ditujukan kepada saudara? Bagaimana perasaan saudara jika pasangan saudara memanggil saudara: "Engkaulah Simeon-ku yang kucinta." Padahal nama saudara bukan Simeon! Sekalipun pasangan saudara berkata bahwa dia mengartikan 'Simeon' sebagai SEBUTAN yang berarti 'Sayang', saya yakin saudara tetap tidak bisa menerimanya dan meminta panggilan sayang itu diganti tanpa menyebut nama Simeon. Jika pasangan saudara itu benar-benar mencintai saudara, pasti menuruti permintaan saudara itu.
Demikian pula dengan Tuhan kita! Dia ingin kita memanggilNya menggunakan panggilan sayang yang Dia sukai! Dalam Hosea 2:15, Tuhan berkata:
Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN (Yahweh), engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku!
*TUHAN = Yahweh (lihat kata ‘TUHAN’ di kamus Alkitab)
Dalam ayat ini dapat kita lihat bahwa Tuhan kita sebenarnya tidak senang dengan panggilan sayang: "Baalku." Lho kenapa? Padahal 'Baal' yang dimaksud adalah sebagai sebutan yang mempunyai arti 'suami' juga lho! Kenapa? Karena 'Baal' adalah nama sesembahan lain dan Israel menganggap bahwa 'Baal' adalah sebagai sebutan. Dengan kata lain umat Israel memaknai 'Baal' sebagai sebutan. Memang selain sebagai NAMA DIRI sebuah dewa, 'Baal' juga merupakan SEBUTAN yang berarti suami. Meskipun demikian, mari kita renungkan ayat di atas, kita melihat bahwa Bapa Yahweh TETAP TIDAK BERKENAN. Kenapa? karena Keluaran 23:13 Dia juga sudah memperingatkan dan mewanti-wanti: "Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; NAMA ILAH LAIN JANGANLAH KAMU PANGGIL, JANGANLAH NAMA ITU KEDENGARAN DARI MULUTMU.” (penekanan ditambahkan).
Seringkali kita juga melakukan seperti yang dilakukan oleh umat Israel di atas, yaitu memakai nama ilah lain sebagai panggilan sayang kita kepada Tuhan kita. Apa buktinya? Seringkali kita memanggil Tuhan kita dengan sebutan 'Allah'. Ini sama halnya dengan 'Baal' di ayat di atas. Kita tahu 'Allah' memang selain sebagai NAMA DIRI tuhannya orang muslim, 'Allah' juga merupakan SEBUTAN yang artinya 'Tuhan' (bagi orang Kristen Indonesia khususnya). Meskipun demikian, Bapa Surgawi TETAP TIDAK BERKENAN kita memakai nama ilah lain sebagai panggilan sayang kepadaNYA (Keluaran 23:13).
Nah, setelah kita membaca ilustrasi dan ayat Hosea 2:15 di atas, masihkah kita memanggil Bapa Yahweh, Tuhan Yesus, dan atau Roh Kudus dengan panggilan sayang yang mengandung nama sesembahan lain, yaitu Allah? Masihkah kita memanggilNya: "Allahku!"?
Bapa Yahweh di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus (Yeshua HaMashiakh) memberkati kita semua!
Shalom! =)
tetapi, yang dimaksud dengan
'Baal' dalam ayat yang anda referensikan adalah 'Gelar' dewa-dewa penduduk asli
Tanah Kanaan...
= = = = = = =
Baik sebagai gelar dewa-dewa penduduk Kanaan, maupun sebagai suami. Tetap sama saja pak, INTINYA ADALAH bangsa Israel menggunakan NAMA BAAL sebagai SEBUTAN atau GELAR untuk menyebut TUHAN YAHWEH. Sama halnya dengan Allah, Allah adalah NAMA DIRI tuhannya orang lain, tetapi juga diartikan sebagai gelar/sebutan. Di atas saya sudah jelaskan.
Baik sebagai gelar dewa-dewa penduduk Kanaan, maupun sebagai suami. Tetap sama saja pak, INTINYA ADALAH bangsa Israel menggunakan NAMA BAAL sebagai SEBUTAN atau GELAR untuk menyebut TUHAN YAHWEH. Sama halnya dengan Allah, Allah adalah NAMA DIRI tuhannya orang lain, tetapi juga diartikan sebagai gelar/sebutan. Di atas saya sudah jelaskan.
“Karena 'Baal' adalah nama sesembahan lain dan Israel
menganggap bahwa 'Baal' adalah sebagai sebutan. Dengan kata lain umat Israel
memaknai 'Baal' sebagai sebutan. Memang selain sebagai NAMA DIRI sebuah dewa,
'Baal' juga merupakan SEBUTAN yang berarti suami. Meskipun demikian, mari kita
renungkankan ayat di atas, kita melihat bahwa Bapa Yahweh TETAP TIDAK BERKENAN.
Kenapa? karena Keluaran 23:13 Dia juga sudah memperingatkan dan mewanti-wanti:
"Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas;
NAMA ILAH LAIN JANGANLAH KAMU PANGGIL, JANGANLAH NAMA ITU KEDENGARAN DARI
MULUTMU.” (penekanan ditambahkan).”
dan dalam konteks Kitab Suci
Ibrani, Baal dikonotasikan sebagai 'bukan tuhan yang benar'.
= = = = = = = = =
dari mana anda yakin itu? Saya tengok di KJV with Strong number:
= = = = = = = = =
dari mana anda yakin itu? Saya tengok di KJV with Strong number:
Ternyata di KJV ayat yang saya sajikan terdapat dalam Hosea 2:16 “And it shall beH1961 at thatH1931
day,H3117 saithH5002 the LORD,H3068
that thou shalt callH7121 me Ishi;H376
and shalt callH7121 me noH3808 moreH5750
Baali.H1180”
Baali (bhs Indonesia: Baalku) dalam kamus Strong bernomor H1180
Baali (bhs Indonesia: Baalku) dalam kamus Strong bernomor H1180
בּעלי
ba‛ălîy
bah-al-ee'
From H1167
with pronominal suffix; my master; Baali, a symbolical
name of Jehovah: - Baali.
Mari perhatikan, Baali di sini selain artinya ‘tuanku’, ternyata juga digunakan sebagai SIMBOL NAMA YAHWEH. Ini sama halnya dengan kata ‘Allah’ yang sedang dipakai oleh sebagian umat Kristen di Indonesia, pak! =) tapi ternyata Bapa Yahweh tetap tidak berkenan! Karena Dia TIDAK MENGHENDAKI ada NAMA TUHAN lain yang disebut dari mulut kita (Keluaran 23:13).
Mari perhatikan, Baali di sini selain artinya ‘tuanku’, ternyata juga digunakan sebagai SIMBOL NAMA YAHWEH. Ini sama halnya dengan kata ‘Allah’ yang sedang dipakai oleh sebagian umat Kristen di Indonesia, pak! =) tapi ternyata Bapa Yahweh tetap tidak berkenan! Karena Dia TIDAK MENGHENDAKI ada NAMA TUHAN lain yang disebut dari mulut kita (Keluaran 23:13).
.
. . . Baal dikonotasikan sebagai 'bukan tuhan
yang benar'.
= = = = =
= = = =
Apakah
Allah dikonotasikan sebagai tuhan yang benar? Jika ya, apa bedanya dengan
kalimat pertama dari kalimat syahadat?
Engkaulah Simeon-ku yang Ku Cinta
Judul di atas bukanlah untuk menonjolkan nama saya sendiri, ataupun untuk kesombongan, ataupun untuk sesuatu yang bukan untuk kemuliaan Tuhan. Saya sengaja membuat judul dengan memuat nama saya karena untuk sebagai contoh ilustrasi yang akan saya sampaikan dalam note ini. Mungkin sebagian para pembaca berpikir: "Mengapa memilih namamu sendiri? Kok tidak nama orang lain?" Ya, karena saya tidak ingin ada yang tersinggung atau merasa tersindir dengan memakai nama orang lain. Oleh karena itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya putuskan untuk memilih nama saya sendiri untuk digunakan sebagai contoh dalam ilustrasi berikut ini.
Bagi saudara para pembaca, terutama pria yang sudah mempunyai pasangan, (jika belum, ya bayangkan gebetan atau berandai sudah mempunyai pasangan, hehehe . . .) tentu sangat senang jika si dia memuji saudara dengan menyebut nama saudara, bukan? Namun bagaimana jika si dia memuji saudara dengan menyebut nama pria lain? Misalkan si dia berkata: "Mas/ kang/ oh/ koh/ koko/ bang, engkaulah Simeon-ku yang kucinta." Apa yang akan saudara lakukan? Bagaimana perasaan saudara? Saya yakin saudara merasa bagai disambar geledek di siang bolong! Saudara pasti akan menanyakan: "Lhoh, kok kamu panggil nama pria lain??? Sebenarnya kamu mencintai siapa??? Saya atau Simeon???" Mungkin si dia akan berkata: "Lhoh mas, tapi meskipun saya sebut 'Simeon' tapi yang saya maksud ya kamu!" Hmmm. . . wahai para pria, bisakah saudara menerima argumennya? Saya yakin tidak! Kenapa? Karena secara tidak sadar/ secara tidak langsung, itu sama saja dia menyamakan saudara dengan Simeon. Betul? Mungkin saking cintanya dia dengan Simeon sampai terobsesi, sehingga dia ingin saudara seperti Simeon ^^,)v hahaha . . . ssttt. . . becanda pak! serius amat sih! hahaha . . . =D Oke, kembali ke topik, selain itu saudara ingin nama saudara disebut ya kan? Lebih mengena dan lebih privat (spesifik) gitu lah! ^^ atau bagaimana jika dia berargumen demikian: "Mas, kalau saya sebut 'Simeon' itu bagi saya artinya 'darling' loh! Itu panggilan sayang buat kamu. . ." Sekali lagi, ilfil gak sih kalau pasangan kita dalam memuji kita menyebut dan mengartikan nama pria lain sebagai panggilan sayang buat kita?? Hayo jujur! @_@
Mungkin kita tersenyum atau bahkan tertawa membaca ilustrasi di atas. Tetapi apakah kita juga melakukan hal yang sama terhadap Tuhan kita? Apakah kita menyebut nama "pria" lain (baca: tuhan lain) dalam memuji Yesus, Sang Kekasih kita? Seperti yang kita ketahui bersama bahwa nama tuhannya orang Islam adalah Allah. Tetapi ketika memuji Tuhan Yesus kita berkata: "Engkaulah Allah-ku yang kucinta." Mungkin sebagian dari kita berkata: "Tuhan kan Mahatahu! DIA ngerti isi hatiku. Kalau saya sebut 'Allah' ya artinya 'Tuhan'" Wew. . . ini sama halnya dengan ilustrasi di atas, kita juga sudah diberi tahu oleh pasangan kita kan, kalau menyebut 'Simeon' artinya 'darling'? Masihkah kita menerima argumennya? Saya yakin tidak! Demikian juga dengan Tuhan! Saudara, kita diciptakan serupa dengan gambarNya, artinya sifat-sifat Tuhan ada dalam kita, kita meniru DIA! Lagipula Tuhan sudah berfirman dalam Keluaran 23:13 supaya nama tuhan lain jangan kita panggil dalam memuji dan menyembah DIA. Masihkah kita menyebut nama tuhan lain dalam memujiNYA? Masihkah kita menyebut nama tuhan lain sebagai panggilan sayang untukNYA? Saya pernah membaca argumen lain: "Yang dimaksud 'Allah' di sini bukan yang nama, tetapi yang sebutan. Jadi MaknanyaSebagai Sebutan." Baiklah, ini sama saja pasangan kita berkata: "Yang dimaksud 'Simeon' di sini bukan yang nama, tetapi yang sebutan." Masih maukah kita menerima argumen ini? Nah, sama halnya dengan Tuhan kita! Dia ingin dalam pikiran dan hati kita HANYA DIA! Segala kemuliaan HANYA bagi DIA! =)
Bapa Yahweh di dalam Nama Tuhan Yeshua HaMashiakh (Yesus Kristus) memberkati kita semua!
Shalom! =)
Maknanya Sebagai Sebutan
Ketika diskusi tentang Nama Tuhan, dalam pengamatan saya, seringkali saudara-saudara yang masih mempertahankan memanggil nama 'Allah' berpendapat kira-kira begini: oke, kalau menyebut kata 'Allah' sebagai nama itu dilarang, lalu apa masalahnya kalau saya memaknainya sebagai sebutan (sinonim dengan kata 'Tuhan')?
Mari kita perhatikan masalahnya, 1Tawarikh 16:26 berkata:
"Sebab segala sesembahan (ilah) bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi Yahweh-lah yang menjadikan langit"
dan pernyataan yang senada diulang dalam Mazmur 96:5:
"Sebab segala sesembahan (ilah) bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi Yahweh-lah yang menjadikan langit".
Dua ayat di atas dengan jelas mengatakan bahwa semua sesembahan (ilah) bangsa-bangsa adalah berhala dan hampa/sia-sia. Nah, jika Alkitab dengan jelas dan tegas mengatakan bahwa semua sesembahan selain Tuhan kita (Yahweh) adalah berhala dan hampa/sia-sia, masakan kita mau memberi makna kepadanya (khususnya kepada namanya) supaya tidak sia-sia sehingga mempunyai makna sinonim dengan kata ‘Tuhan’? Jika kita mau demikian, pertanyaan yang sama bisa saya ajukan kepada kita semua: kalau kita memaknai kata 'Zeus' sebagai nama diri itu dilarang, lalu apa masalahnya kalau saya memaknainya sebagai sebutan (sinonim dengan kata 'Tuhan')?
Namun ternyata yang mempermasalahkan adalah Tuhan kita sendiri, dalam Yesaya 42:8 dikatakan bahwa Dia TIDAK MAU berbagi kemuliaanNya kepada yang lain atau kepada patung. Lagipula dalam Keluaran 23:13 Tuhan berkata:
"Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; NAMA ILAH LAIN JANGANLAH KAMU PANGGIL, JANGANLAH NAMA ITU KEDENGARAN DARI MULUTMU.” (penekanan ditambahkan)
Bapa Yahweh di dalam Nama Tuhan Yeshua memberkati kita semua! Shalom! =)
Subscribe to:
Comments (Atom)