Shalom saudara-saudara yang kekasih
dalam Tuhan Yeshua,
Berkaitan dengan Nama Tuhan kita,
berdasarkan pengamatan, saya melihat banyak orang Kristen yang masih bingung
untuk membedakan antara 'Bahasa', 'Nama Pribadi', dan 'Sebutan.' Banyak di
antara mereka yang bingung apakah Nama Pribadi Tuhan kita bisa diterjemahkan
atau tidak. Ada juga yang berkata, jika menggunakan Nama Yahweh, maka ganti
saja Alkitabnya dengan menggunakan bahasa aslinya semua. Sehingga hal ini
menjadi debat yang berkepanjangan, yang seharusnya tidak perlu terjadi. Oleh
karena itu saya mencoba share dengan membuat note ini dan memfokuskan note ini
seputar 'Bahasa', 'Nama Pribadi', dan 'Sebutan'. Kiranya dapat menjadi berkat
bagi kita semua.
Bahasa
Bahasa apakah kalimat di bawah
ini?
1. Cinta adalah nama temanku.
2. Cinta punika asmanipun rencang
kula.
3. Cinta is my friend's name.
Tentu saja jawaban pertanyaan di
atas adalah:
1. Bahasa Indonesia
2. Bahasa Jawa
3. Bahasa Inggris
Apa makna ketiga kalimat itu?
Saya mempunyai teman yang bernama
Cinta.
Nama Pribadi
Mengapa 'cinta' tidak berubah
di bahasa apapun? Padahal 'cinta' dalam bahasa Jawa berarti 'Tresna,' dan dalam
bahasa Inggris berarti 'Love.'
Karena kedudukan 'cinta' dalam
kalimat tersebut adalah sebagai nama pribadi.
Apa jadinya jika 'cinta' ikut
diterjemahkan?
Dalam bahasa Jawa akan menjadi:
Tresna punika asmanipun rencang kula. Akibatnya kalimat ini akan menunjuk pada
pribadi yang berbeda, karena ada orang Jawa yang bernama Tresna. Sedangkan
dalam bahasa Inggris akan menjadi: Love is my friend's name. Kalimat ini juga
akan menunjuk pada pribadi yang berbeda.
Lalu bagaimana jika 'cinta'
diganti/disalin dengan kata yang lain, 'perempuan' misalnya? Toh Cinta juga
seorang perempuan kan?
Tentu saja hal ini akan
mengakibatkan kalimat itu tidak jelas. Kenapa? Memang benar teman saya yang
bernama Cinta berjenis kelamin perempuan, namun jika kita tidak mengetahui teks
aslinya, maka kita tidak tahu yang dimaksud 'perempuan' di kalimat itu
perempuan yang mana. Karena ada banyak perempuan di dunia ini, kecuali jika
memang namanya adalah 'perempuan' (namun ini akan jadi menunjuk pada pribadi
yang berbeda, bukan lagi menunjuk pribadi Cinta, tetapi pribadi Perempuan).
Jika ada orang yang hanya
berbahasa Inggris membaca contoh kalimat nomor 3 di atas, apakah dia harus
dapat berbahasa Indonesia (hanya karena kata 'cinta' digunakan di lingkungan
bahasa Indonesia)?
Tidak, ini hanyalah persoalan nama
pribadi, bukan bahasa. Contoh, jika kita mempunyai teman bernama Nobita lalu
apakah kita harus menggunakan bahasa Jepang?
Jadi dapat kita simpulkan bahwa:
Nama pribadi tidak berubah dalam bahasa apapun
(meskipun nama tersebut mempunyai arti tertentu dalam suatu bahasa).
Nama pribadi tidak dapat dan tidak boleh diterjemahkan
(meskipun nama tersebut mempunyai arti tertentu dalam suatu bahasa). Jika suatu
nama pribadi diterjemahkan, maka dapat membuat suatu kalimat
menunjuk pada pribadi yang berbeda dan mempunyai makna yang berbeda.
Nama pribadi tidak dapat diganti/disalin. Jika
suatu nama pribadi diganti/disalin, maka dapat membuat suatu
kalimat menunjuk pada pribadi yang berbeda dan mempunyai makna yang berbeda.
Sebutan
Mengapa 'temanku' berubah
sesuai dengan bahasanya?
Karena kedudukan 'temanku' dalam
kalimat itu adalah sebagai sebutan/predikat untuk orang yang kita kenal, dalam
hal ini yaitu Cinta.
Apa jadinya jika 'temanku'
dalam kalimat di atas tidak diterjemahkan?
Kalimat itu tidak dapat dipahami
oleh orang yang hanya berbahasa Jawa ataupun oleh orang yang hanya berbahasa
Inggris.
Apa jadinya jika 'temanku'
dalam kalimat di atas diganti/disalin? Diganti dengan kata yang berarti
'pembantuku' misalnya?
Kalimat itu akan mempunyai makna
yang berbeda.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa:
Sebutan dapat/boleh diterjemahkan supaya orang
yang berbahasa tertentu dapat memahaminya.
Sebutan tidak dapat diganti/disalin karena
akan mengubah makna dari kalimat itu.
Aplikasi
Berdasarkan uraian di atas, mari
kita terapkan dalam kasus yang nyata, khususnya dalam kehidupan rohani kita.
Kita membaca dalam Yesaya 42:8a terjemahan LAI dikatakan: "Aku ini TUHAN,
itulah nama-Ku." Berdasarkan ayat itu, maka kita tahu bahwa nama-Nya
adalah TUHAN. Benar? Memang benar jika ayat tersebut bukan hasil terjemahan.
Namun karena ayat tersebut merupakan hasil terjemahan, maka kita harus melihat
bahasa asli ayat tersebut, yaitu bahasa Ibrani. Bunyi ayat tersebut dalam
bahasa Ibrani sebagai berikut: "Ani Yahweh, hu sh'mi." Kita tahu,
seperti yang sudah kita pelajari bersama di atas, bahwa nama pribadi tidak
dapat dan tidak boleh diterjemahkan, maka terjemahannya akan menjadi :
"Akulah Yahweh, itulah Nama-Ku." Ternyata hal ini pun sudah diberi
catatan oleh LAI sendiri dalam kamus Alkitab bahwa kata 'TUHAN' (huruf kapital
semua) adalah salinan dari NAMA
Tuhannya orang Israel yang bernama Yahweh. Memang benar bahwa Yahweh adalah
Tuhan, namun 'TUHAN' bukanlah nama, tetapi sebutan. 'TUHAN' yang dimaksud dalam
ayat ini Tuhan yang mana? Karena ada banyak Tuhan dalam dunia ini. Oleh karena
itulah nama pribadi tidak dapat dan tidak boleh diterjemahkan.
Kiranya tidak ada lagi yang bingung
untuk membedakan antara 'Bahasa', 'Nama Pribadi', dan 'Sebutan.'
Kiranya Tuhan Yeshua haMashiakh
memberkati dan mencerahkan hati dan pikiran kita semua!
No comments:
Post a Comment