Monday, December 10, 2012

Bahasa Indonesia 101



Shalom saudara-saudara yang kekasih dalam Tuhan Yeshua,

Berkaitan dengan Nama Tuhan kita, berdasarkan pengamatan, saya melihat banyak orang Kristen yang masih bingung untuk membedakan antara 'Bahasa', 'Nama Pribadi', dan 'Sebutan.' Banyak di antara mereka yang bingung apakah Nama Pribadi Tuhan kita bisa diterjemahkan atau tidak. Ada juga yang berkata, jika menggunakan Nama Yahweh, maka ganti saja Alkitabnya dengan menggunakan bahasa aslinya semua. Sehingga hal ini menjadi debat yang berkepanjangan, yang seharusnya tidak perlu terjadi. Oleh karena itu saya mencoba share dengan membuat note ini dan memfokuskan note ini seputar 'Bahasa', 'Nama Pribadi', dan 'Sebutan'. Kiranya dapat menjadi berkat bagi kita semua.

Bahasa
Bahasa apakah kalimat di bawah ini?
1. Cinta adalah nama temanku.
2. Cinta punika asmanipun rencang kula.
3. Cinta is my friend's name.

Tentu saja jawaban pertanyaan di atas adalah:
1. Bahasa Indonesia
2. Bahasa Jawa
3. Bahasa Inggris

Apa makna ketiga kalimat itu?
Saya mempunyai teman yang bernama Cinta.


Nama Pribadi
Mengapa 'cinta' tidak berubah di bahasa apapun? Padahal 'cinta' dalam bahasa Jawa berarti 'Tresna,' dan dalam bahasa Inggris berarti 'Love.'
Karena kedudukan 'cinta' dalam kalimat tersebut adalah sebagai nama pribadi.
Apa jadinya jika 'cinta' ikut diterjemahkan?
Dalam bahasa Jawa akan menjadi: Tresna punika asmanipun rencang kula. Akibatnya kalimat ini akan menunjuk pada pribadi yang berbeda, karena ada orang Jawa yang bernama Tresna. Sedangkan dalam bahasa Inggris akan menjadi: Love is my friend's name. Kalimat ini juga akan menunjuk pada pribadi yang berbeda.
Lalu bagaimana jika 'cinta' diganti/disalin dengan kata yang lain, 'perempuan' misalnya? Toh Cinta juga seorang perempuan kan?
Tentu saja hal ini akan mengakibatkan kalimat itu tidak jelas. Kenapa? Memang benar teman saya yang bernama Cinta berjenis kelamin perempuan, namun jika kita tidak mengetahui teks aslinya, maka kita tidak tahu yang dimaksud 'perempuan' di kalimat itu perempuan yang mana. Karena ada banyak perempuan di dunia ini, kecuali jika memang namanya adalah 'perempuan' (namun ini akan jadi menunjuk pada pribadi yang berbeda, bukan lagi menunjuk pribadi Cinta, tetapi pribadi Perempuan).
Jika ada orang yang hanya berbahasa Inggris membaca contoh kalimat nomor 3 di atas, apakah dia harus dapat berbahasa Indonesia (hanya karena kata 'cinta' digunakan di lingkungan bahasa Indonesia)?
Tidak, ini hanyalah persoalan nama pribadi, bukan bahasa. Contoh, jika kita mempunyai teman bernama Nobita lalu apakah kita harus menggunakan bahasa Jepang?

Jadi dapat kita simpulkan bahwa:
Nama pribadi tidak berubah dalam bahasa apapun (meskipun nama tersebut mempunyai arti tertentu dalam suatu bahasa).
Nama pribadi tidak dapat dan tidak boleh diterjemahkan (meskipun nama tersebut mempunyai arti tertentu dalam suatu bahasa). Jika suatu nama pribadi diterjemahkan, maka dapat membuat suatu kalimat menunjuk pada pribadi yang berbeda dan mempunyai makna yang berbeda.
Nama pribadi tidak dapat diganti/disalin. Jika suatu nama pribadi diganti/disalin, maka dapat membuat suatu kalimat menunjuk pada pribadi yang berbeda dan mempunyai makna yang berbeda.


Sebutan
Mengapa 'temanku' berubah sesuai dengan bahasanya?
Karena kedudukan 'temanku' dalam kalimat itu adalah sebagai sebutan/predikat untuk orang yang kita kenal, dalam hal ini yaitu Cinta.
Apa jadinya jika 'temanku' dalam kalimat di atas tidak diterjemahkan?
Kalimat itu tidak dapat dipahami oleh orang yang hanya berbahasa Jawa ataupun oleh orang yang hanya berbahasa Inggris.
Apa jadinya jika 'temanku' dalam kalimat di atas diganti/disalin? Diganti dengan kata yang berarti 'pembantuku' misalnya?
Kalimat itu akan mempunyai makna yang berbeda.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa:
Sebutan dapat/boleh diterjemahkan supaya orang yang berbahasa tertentu dapat memahaminya.
Sebutan tidak dapat diganti/disalin karena akan mengubah makna dari kalimat itu.


Aplikasi
Berdasarkan uraian di atas, mari kita terapkan dalam kasus yang nyata, khususnya dalam kehidupan rohani kita. Kita membaca dalam Yesaya 42:8a terjemahan LAI dikatakan: "Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku." Berdasarkan ayat itu, maka kita tahu bahwa nama-Nya adalah TUHAN. Benar? Memang benar jika ayat tersebut bukan hasil terjemahan. Namun karena ayat tersebut merupakan hasil terjemahan, maka kita harus melihat bahasa asli ayat tersebut, yaitu bahasa Ibrani. Bunyi ayat tersebut dalam bahasa Ibrani sebagai berikut: "Ani Yahweh, hu sh'mi." Kita tahu, seperti yang sudah kita pelajari bersama di atas, bahwa nama pribadi tidak dapat dan tidak boleh diterjemahkan, maka terjemahannya akan menjadi : "Akulah Yahweh, itulah Nama-Ku." Ternyata hal ini pun sudah diberi catatan oleh LAI sendiri dalam kamus Alkitab bahwa kata 'TUHAN' (huruf kapital semua) adalah salinan dari NAMA Tuhannya orang Israel yang bernama Yahweh. Memang benar bahwa Yahweh adalah Tuhan, namun 'TUHAN' bukanlah nama, tetapi sebutan. 'TUHAN' yang dimaksud dalam ayat ini Tuhan yang mana? Karena ada banyak Tuhan dalam dunia ini. Oleh karena itulah nama pribadi tidak dapat dan tidak boleh diterjemahkan.

Kiranya tidak ada lagi yang bingung untuk membedakan antara 'Bahasa', 'Nama Pribadi', dan 'Sebutan.'
Kiranya Tuhan Yeshua haMashiakh memberkati dan mencerahkan hati dan pikiran kita semua!

No comments:

Post a Comment