Tuesday, December 19, 2023

Yeshua Lahir tanggal 25 Kislev (Desember) atau 15 Tishri (September/Oktober)?

  

Saat ini ada 2 perbedaan mengenai tanggal lahir Yeshua. Yang pertama adalah di tanggal 25 Kislev yang mereka yakini sama dengan 25 Desember dan yang kedua adalah di tanggal 15 Tishri yang jatuh di bulan September/Oktober.

 

Sebenarnya semuanya adalah masih perkiraan, bukan pasti. Karena Alkitab tidak mencatat tanggal kelahiran Yeshua sehingga kita harus melacaknya. Tetapi meskipun demikian, saya lebih percaya Yeshua lahir di tanggal 15 Tishri bertepatan dengan hari raya Sukkot (September/Oktober). Bukan di tanggal 25 Kislev atau 25 Desember. Mengapa? Segera akan saya jelaskan.

Tapi sebelum saya uraikan mengapa saya tidak yakin Yeshua lahir di Desember, saya mau ajak saudara untuk memahami dulu beberapa aturan dasar berikut ini supaya tidak bingung:

1.    Dalam kalender Ibrani setiap 2 atau 3 tahun sekali itu ada penambahan bulan ke 13, yaitu bulan Adar 2 (29 hari). Ini contohnya: 


2.     Bulan pertama dalam konteks religius adalah bulan Nisan. Kalau konteks awam adalah bulan Tishri. 

3.       Setiap rombongan imam bertugas selama 1 minggu
4.  Rombongan imam bertugas 2x setahun sesuai urutan jadwal, di luar tugas bersama. Baca 1 Tawarikh 24:1-19.
5.   Tugas bersama ada 3x, pada perayaan besar: Roti Tidak Beragi, Shavuot, dan Sukkot. Baca Ulangan 16:16. Tugas bersama ini durasinya 1 minggu per hari raya.

️Ini sangat penting, silakan diingat-ingat, bila perlu dicatat. Karena kita akan meneliti dengan aturan-aturan itu.

Oke, sekarang saya jelaskan mengapa saya tidak yakin Yeshua lahir di Desember.

 

Argumen yang mengatakan Yeshua lahir di bulan Desember, adalah berdasarkan tulisan Flavius Yosephus yang mengatakan bahwa saat penghancuran bait suci oleh Jendral Titus terjadi pada bulan Av tahun 70 M. Pada saat itu yang bertugas adalah rombongan Yoyarib. Ini merupakan rombongan pertama, berdasarkan 1 Tawarikh 24 tadi. Nah, Zakharia itu di rombongan Abiyah (Lukas 1:5), itu rombongan ke delapan (1 Tawarikh 24:10). Sehingga kalau dihitung 8 minggu, maka rombongan Abiyah bertugas di bulan Elul.

 

Nah, di sinilah awal mula permasalahannya. Tulisan Yosephus yang menyatakan bahwa rombongan Yoyarib bertugas di bulan Av mereka jadikan sebagai patokan. Pertanyaannya adalah: Apakah rombongan Yoyarib SELALU bertugas di bulan Av setiap tahunnya (sehingga rombongan Yoyarib di zaman Zakharia juga bertugas di bulan Av sama seperti di tahun 70 M itu)? Sayangnya tidak ada data yang mengatakan demikian. Apalagi dalam kalender Yahudi ada tahun-tahun di mana ada 13 bulan, yaitu tambahan bulan Adar 2 di setiap 2-3 tahun (ingat aturan dasar poin 1 di atas). Aturan jadwal tugas imam saat ada bulan Adar 2 juga tidak ada data. Urutan rombongan dan nama-namanya memang selalu sama, tetapi waktunya (bulan dan minggu ke berapa) tidak ada data yang saya temukan yang memastikan bahwa setiap rombongan bertugas di bulan yang sama setiap tahunnya. Lagipula ada 3x tugas bersama (ingat aturan dasar poin 5 di atas), sehingga membuat patokan itu menjadi bermasalah.

 

Meskipun menurut “The Rabbinic View of Biblical Chronology” (diterjemahkan oleh Heinrich W. Gugen Heimer, Lanham: Rowman & Littlefield, 1998, hal. 264) rombongan yang bertugas saat Bait Suci dihancurkan zaman Nebukadnezar (yang tertulis dalam 2 Raja-raja 25:8-9) itu adalah rombongan Yoyarib (tahun 586 SM), tapi kalau dibandingkan dengan kejadian yang ditulis oleh Yosephus yang adalah tahun 70 M, itu jarak sangat jauh sekali (ratusan tahun), sehingga tidak bisa dijadikan patokan bahwa rombongan Yoyarib SELALU bertugas pada bulan Av. Bisa saja siklus tugasnya memang telah kembali ke bulan yang sama.

 

Kemudian pertanyaan berikutnya adalah: Mengapa rombongan Yoyarib di bulan Av dijadikan patokan? Padahal setiap rombongan BERTUGAS DUA KALI dalam setahun. Dengan demikian rombongan Yoyarib juga bertugas di sekitar bulan Shevat. Demikian pula rombongan Abia bisa di bulan Elul dan bisa di bulan Adar. Dari mana kita bisa yakin bahwa Gabriel menemui Zakharia di bulan Elul dan bukan di bulan Adar? Padahal Alkitab tidak menuliskannya. Dengan demikian pelacakan tanggal lahir Yeshua dengan menggunakan patokan tulisan Yosephus tidak bisa dijadikan dasar pelacakan.

 

Nah, sekarang saya akan jelaskan mengapa saya lebih percaya bahwa Yeshua lahir di tanggal 15 bulan Tishri bertepatan dengan Hari Raya Sukkot/ Pondok Daun/ Tabernakel.

Meskipun Rabbi Shmuel Safrai, Ph.D menuliskan bahwa tidak mungkin melacak kelahiran Yeshua melalui patokan waktu tugas Zakharia, namun di sisi lain Rabbi Shmuel Safrai menuliskan bahwa rombongan Abia zaman Zakharia bertugas di akhir bulan Iyyar dan akan bertugas lagi pada akhir bulan Marshevan (Jerusalem Perspective: A Monthly Report on Research into the Words of Jesus, volume 2, nomor 5, Februari 1989, hal. 2). Dengan demikian kalau kita mau mencoba melacak kelahiran Yeshua, maka ada 2 opsi pilihan perhitungan: (1) Abia di akhir bulan Iyyar dan (2) Abia di akhir bulan Marshevan. Kalau saya lebih memilih opsi pertama dengan sedikit tambahan, mengapa? Singkatnya, kelahiran Yeshua yang jatuh pada Hari Raya Sukkot akan menggenapi makna 7 Hari Raya yang diperintahkan Bapa Yahweh untuk kita rayakan (baca Imamat 23). Karena ke-7 Hari Raya itu terdapat makna yang dalam dan seluruhnya tertuju pada grand design Bapa Yahweh yang terwujud dalam Yeshua, mulai dari kelahiranNya, wafatNya, kebangkitanNya, hingga kedatanganNya kembali sebagai Raja. Dengan demikian, kalau memilih opsi kedua, maka penggenapan dan benang merah 7 Hari Raya dengan Yeshua menjadi tidak sinkron.

 

Berikut ini uraian mengenai opsi yang saya pilih di atas:

  1. Saya melihat Rabbi Shmuel Safrai belum memasukkan hari raya Paskah yang jatuh di minggu ketiga bulan Nisan (14 Nisan) dan hari raya Shavuot yang jatuh di minggu pertama bulan Sivan (7 minggu setelahnya), dimana semua rombongan imam bertugas bersama. Dengan demikian jadwal rombongan Abia akan mundur 2 minggu, sehingga jatuh di minggu ke dua bulan Sivan.
  2. Dari poin 1 ini kita dapat mengetahui bahwa Elisheva (Elisabet) hamil pada minggu ketiga bulan Sivan, setelah Zekharyah (Zakharia) menyelesaikan tugasnya di minggu ke dua bulan Sivan.
  3. Pada saat bulan keenam kandungan Elisheva (Elisabet), Miryam (Maria) dikunjungi Gabriel kemudian Miryam (Maria) mengunjungi Elisheva (Elisabet) (Lukas 1:26-40). Dengan demikian Yeshua mulai dikandung di bulan Kislev (6 bulan dari Sivan). Asumsi saya, ini bertepatan pada saat perayaan Hanukah (tanggal 25 Kislev), sebagai lambang Yeshua sebagai Terang yang datang ke dunia. Hanukah juga disebut sebagai hari raya dedikasi bait suci, dan ini digenapi dalam Yeshua yang mulai ada dalam kandungan Miryam (Maria) sehingga sejak saat itu Miryam (Maria) mendedikasikan tubuhnya untuk Tuhan dengan tidak bersetubuh dengan Yosep (Yusuf) sampai melahirkan Yeshua (Matius 1:24-25).
  4. Dari bulan Kislev, 3 bulan 10 hari kemudian adalah bulan Nisan. Saya menduga, Yokhanan Pembaptis lahir saat hari raya Paskah (14 Nisan). Yokhanan Pembaptis adalah Elia yang akan datang itu (Matius 11:13-14, 17:11-13). Tradisi Yahudi, ketika makan Paskah, mereka selalu menyediakan tempat kosong untuk Elia (https://www.oneforisrael.org/bible-teachings/passover-and-elijah/). Oleh karena itu, sebagai penggenapan bahwa Yokhanan Pembaptis adalah Elia yang akan datang itu, maka dia ‘datang’ saat Paskah.
  5. Lalu 6 bulan kemudian dari bulan Nisan, yaitu di bulan Tishri, Yeshua lahir tepat pada saat hari raya Sukkot sebagai penggenapan bahwa Dia akan berkemah/ berdiam bersama dengan manusia.
  6. Pada hari kedelapan, Yeshua disunat (Lukas 2:21). Jika Yeshua lahir di hari pertama Sukkot, maka saat Yeshua disunat bertepatan dengan hari Shemini Atzeret (Imamat 23:36). Dengan demikian Yeshua sejak lahir sudah menggenapi Torah.

 

Atas dasar pemahaman itulah saya percaya bahwa Yeshua lahir pada tanggal 15 Tishri, tepat di hari pertama perayaan Sukkot. Tetapi Alkitab memang tidak mencatat tanggal yang pasti kelahiran Yeshua karena orang Yahudi tidak biasa merayakan hari kelahiran. Kalau tidak dicatat dalam Alkitab, menurut saya berarti itu tidak penting. Orang Yahudi lebih mementingkan hari kematian daripada hari kelahiran (Pengkhotbah 7:1). Yeshua saat perjamuan terakhir juga mengatakan untuk mengingat kematian Dia (Lukas 22:19 dan 1 Korintus 11:26). Lagipula Alkitab mencatat hanya ada 2 orang yang merayakan hari ulang tahunnya, yaitu Firaun (Kejadian 40:20) dan Herodes (Matius 14:6).

 

Oleh karena itu, karena ini juga perkiraan, jika misalnya ternyata Yeshua tidak lahir di Hari Raya Sukkot, nothing to lose bagi saya, karena kami tidak merayakan hari kelahiran Yeshua, tetapi Hari Raya Sukkot, mengingat bagaimana Tuhan ‘berkemah’ berdiam bersama dengan manusia. Lagipula hari lahir Yeshua juga tidak diperintahkan untuk dirayakan. Sebaliknya, bagaimana dengan yang merayakan kelahiran Yeshua di tanggal 25 Desember jika ternyata Yeshua tidak lahir di 25 Desember?

 

Satu lagi bonus informasi, ternyata 25 Kislev TIDAK SAMA dengan 25 Desember. Silakan Saudara melacaknya sendiri di internet, ketik hebrew calendar converter. Dengan demikian argumen bahwa Yeshua lahir di 25 Kislev atau 25 Desember adalah tidak tepat.

 

Tuesday, October 12, 2021

Orang Amori Menyembah Allah?

Ini dia sejarah tentang asal mula muncul kata Allah, beserta sumber-sumber yang bisa dipertanggung jawabkan! Tidak asal mengutip cerita tanpa sumber yang jelas.

 

“Dan jika hal ini tampak jahat menurut pandanganmu untuk beribadah kepada YAHWEH, hari ini pilihlah bagi dirimu, kepada siapa kamu akan beribadah --apakah kepada ilah-ilah yang leluhurmu beribadah di seberang sungai, atau kepada ilah-ilah orang Amori yang di dalam negerinya kamu tinggal-- tetapi mengenai aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada YAHWEH.” (Yosua 24:15 KSILT)

Saya sangat setuju dengan kalimat bijak yang diajukan oleh Yosua, yaitu pilihan menyembah siapa itu dikembalikan kepada masing-masing pribadi. Mengenai masalah Allah VS Yahweh, silakan jalankan apa yang anda percayai. Mau tetap mempertahankan Allah, ya silakan, itu hak anda . . . sedangkan yang sudah memakai nama Yahweh ya jaga kekudusan NamaNya dalam kita, baik dalam perkataan maupun perbuatan. . . =)

 

Saya ingin share sedikit tentang penelusuran saya. Ketika saya membaca ayat di atas, yang menarik perhatian saya adalah Yosua menyebutkan “ilah-ilah orang Amori.” Dari sini saya ingin mengetahui siapakah ilahnya orang Amori? Lalu saya mencari data-data dalam buku-buku dan internet. Berdasarkan penelusuran saya, ini yang saya dapat:

  1. Orang Amori ternyata menyembah banyak dewa, salah satunya DEWA BULAN Sin (http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Amorites).
  2. Nama lain Sin (Suen) adalah Nanna, dia merupakan dewa orang Sumeria yang sangat terkenal dalam agama dan mitologi Mesopotamia. (http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Sin_%28mythology%29). 
  3. Rupanya sang DEWA BULAN dalam masyarakat Sumeria bernama Sin/ Nanna.  
  4. Berita lain yang mengejutkan adalah ternyata orang Amori diduga kuat berasal dari Arab, bukan Siria.  Sumber itu mengatakan: “In the oldest cuneiform sources (c. 2400-c. 2000 BC), the Amorites were equated with the West, though their true place of origin was most likely Arabia, not Syria.” (http://history-world.org/amorites.htm).
  5. Saya jadi ingat bahwa masyarakat Arab pra Islam juga mempunyai DEWA BULAN, mereka mengenalnya dengan nama: Allah.  Hanya bedanya, dalam masyarakat Arab, sang DEWA BULAN ini juga merupakan dewa yang tertinggi. Dalam bukunya “The Unfinished Battle Islam and the Jews”, Halaman 85, Mark A. Gabriel, PhD mengatakan bahwa “The Name Allah was used in pre Islam Arabia to refer to one of the 360 idol in Kabaa and refer the moon god. Allah was supposed to be the greatest god. Some tribes used the name to refer to THE MOON GOD.” (penekanan ditambahkan).
  6. Hal ini didukung oleh John Hagee dalam bukunya “Jerusalem Countdown: A Warning to the World” pada halaman 41 dia menulis: “The name Allah came from an Arabic word that had to do with the worship of THE MOON GOD in pre-Islamic Arabia. “Allah” cannot be found in the Hebrew Old Testament or the Greek Testament. Allah is not the same as the God of Abraham, Isaac, and Jacob.” (penekanan ditambahkan).
  7. Satu lagi sumber yang menyetujui hal ini adalah buku yang berjudul “Islam: In Light of History” oleh Dr. Rafat Amari, halaman 273 mengatakan: “The Origin of “Allah” and How the Name was Developed from the god of the Moon in Arabia, as it is Attested in Various Arabian Inscriptions. We know that the term “Allah,” as the god of the moon, was derived from the Thamud god of the moon. His name was Hilal, or Hlal, which means “cresent.””

Jadi, kesimpulan saya: orang Amori ini, mereka menyembah DEWA BULAN bernama Allah ketika di Arab, namun ketika di Kanaan mereka menyebutnya dengan nama Sin. Jadi Sin alias Nanna alias Allah!

 

Daftar pustaka:

 

# Amari, Rafat. “Islam: In Light of History.” A Religion Research Institute Publication. ISBN: 0-9765024-0-2

# Gabriel, Mark A. 2003. “The Unfinished Battle Islam and the Jews.” Lake Mary: Charisma House a Strang. ISBN: 0-88419-956-8

# Hagee, John. 2006. “Jerusalem Countdown: A Warning to the World.” Lake Mary: Charisma House a Strang. ISBN: 1-59185-893-3

# http://history-world.org/amorites.htm

# http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Amorites

# http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Sin_%28mythology%29

Allah alias Nana.jpg

Tuhan Expired

Baru-baru ini saya mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan Firman Tuhan di salah satu persekutuan mahasiswa. Ada hal yang menarik ketika saya menyampaikan kebenaran Nama Yahweh. Tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang menginterupsi penyampaian firman Tuhan dengan mengangkat tangan. Lalu saya berikan kesempatan kepadanya untuk berbicara. Ternyata dia menyanggah demikian: "Yahweh kan hanya ada di Perjanjian Lama dan tidak ada di Perjanjian Baru, sedangkan kita ada di Perjanjian Baru."

 

Argumen serupa juga sering saya dengar dari orang Kristen yang belum menerima nama Yahweh dan mempertahankan nama Allah. Menurut saya ini adalah argumen yang tidak dipikir panjang dan tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Mari kita perhatikan, argumen ini secara tidak langsung hendak mengatakan bahwa "Perjanjian Lama sudah tidak berlaku lagi karena kita hidup di Perjanjian Baru. Oleh karena itu Tuhan yang ada di Perjanjian Lama ikut menjadi tidak berlaku lagi, alias expired." Mari kita renungkan, mungkinkah Tuhan expired? Mungkinkah masa jabatan Tuhan berakhir? Sedangkan firmanNya mengatakan bahwa Yahweh adalah TUHAN YANG KEKAL. Yesaya 40:28 berkata "Tidakkah engkau tahu? Tidakkah engkau dengar? Elohim yang kekal, Yahweh, Dialah yang menciptakan ujung-ujung bumi..." (ILT). Keluaran 15:18 "TUHAN (Yahweh) memerintah kekal selama-lamanya" (LAI). Mazmur 29:10b "TUHAN (Yahweh) bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya" (LAI). Masih banyak ayat-ayat yang lain yang mengatakan bahwa Yahweh adalah Tuhan yang kekal. Lagipula dalam Matius 22:37 Yeshua memerintahkan kita untuk mengasihi Yahweh, masakan kita menganggap Yahweh sudah expired? Sudah habis masa jabatanNya? Mustahil!

 

Kembali ke cerita saya tadi, kemudian saya jawab "Di Perjanjian Baru ada Nama Yahweh, bahkan Yeshua memerintahkan untuk kita mengasihi Yahweh. Matius 22:37 dalam bahasa aslinya berbunyi 'Wayomer Yeshua elaiw et Yahweh eloheikha bekhal levavkha uvkhal nafsekha uvkhal maddaikha' yang artinya 'Yeshua berkata: kasihilah Yahweh, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu'. Jika anda berpikir: 'Yahweh kan ada di Perjanjian Lama sedangkan kita ada di Perjanjian Baru', apakah kalau begitu Perjanjian Lama sudah tidak berlaku lagi? Buang saja Perjanjian Lama kalau memang sudah tidak berlaku lagi." Lalu saya kembali lanjutkan penyampaian firman.

 

Oleh karena itu, marilah kita berpegang teguh pada apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan, bukan pada argumen yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan yang hanya untuk mempertahankan nama tuhannya orang lain dalam penyembahan kepada Tuhan kita.

 

Bapa Yahweh di dalam Nama Tuhan Yeshua memberkati.